What is Pondok Pesantren SELAMAT Kota Magelang ?

A. DASAR PEMIKIRAN

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an yang mulia:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kebaikan hidup)-nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Logo Pontrent SELAMATPembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia bertugas melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesekahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia juga mengamanatkan agar Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia. Pada tataran operasional, pendidikan nasional dimaksudkan sebagai usaha sadar, terencana, dan berkesinambungan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Namun demikian, praktek pendidikan nasional hingga dewasa ini masih menjadi sorotan dan mengundang keprihatinan banyak kalangan di tengah-tengah krisis multidimensi yang sedang melanda bangsa Indonesia. Berbagai macam krisis yang terjadi, menurut banyak kalangan harus diatasi dan diselesaikan dalam jangka panjang melalui sistem pendidikan yang tepat. Ironinya, alih-alih ingin menyelesaikan krisis bangsa melalui pendidikan nasional, ternyata pendidikan nasional itu sendiri mengalami krisis yang berat dan merupakan bagian dari krisis bangsa Indonesia itu sendiri.

Banyaknya perilaku pelajar yang kurang bahkan tidak lagi menghargai norma-norma susila, norma-norma agama, tawuran antar pelajar, bantuan jawaban ketika Ujian Nasional dan lain-lain, semakin menegaskan rentetan kegagalan praktek sistem pendidikan nasional. Dalam ranah kehidupan sosial yang lebih luas, di mana-mana sering dijumpai masyarakat yang tidak disiplin dalam segala aspek, tidak taat peraturan, rendahnya tanggungjawab sebagai individu, warga keluarga, warga masyarakat, dan warga negara. Kenyataan kehidupan sosial tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari rendahnya mutu pendidikan nasional. Harus diakui bahwa karakter dan masa depan suatu bangsa tergantung pada rekayasa sosial melalui pembangunan sumber daya manusia yaitu melalui pendidikan.

Pendidikan adalah pusaka yang sangat berharga (education is a treasure) bagi manusia dan bangsa. Akan tetapi pusaka tersebut sekarang mengalami ketumpulan yaitu kekurangmampuannya membekali peserta didik dengan nilai-nilai dan moral sebagaimana termuat dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Praktek pendidikan nasional hingga saat ini masih dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan dan menekankan mutu lulusan yang menguasai aspek kognitif semata, dan terjebak pada formalitas pendidikan,

Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan hidup, education as a necessity of life, karena dalam pendidikan akan ditransformasikan nilai-nilai luhur budaya suatu masyarakat. Melalui pendidikan juga pembentukan karakter seseorang dilakukan. Pembentukan dan pendidikan karakter melalui pendidikan tidak dapat dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, akan tetapi melalui penanaman nilai-nilai yang diwujudkan dalam aktifitas sosial. Dalam hal ini, peserta didik harus mendapatkan bimbingan dan pengawasan dari para gurunya. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa penanaman nilai tersebut dilakukan melalui metode keteladanan. Dalam konteks ini, lingkungan pendidikan dan bahkan lingkungan masyarakat luas jelas memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai luhur untuk pembentukan karakter.

Dalam konteks ini, pendidikan model pesantren dengan konsep pendidikan “24 jam” memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kepada para peserta didik. Para santri sebagai peserta didik di dalam pendidikan model pesantren, memperoleh pendidikan nilai tidak hanya dari kegiatan belajar-mengajar formal, melainkan juga dari aktifitas sehari-hari di luar pembelajaran formal yang terus mendapat bimbingan dan pengawasan kyai dan para ustadz, bahkan kyai dan para ustadz memberikan teladan bagaimana nilai-nilai luhur itu diimplementasikan dalamkehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, pembentukan dan pendidikan karakter anak bangsa melalui pendidikan model pesantren merupakan usaha alternatif, mulia, dan mendesak untuk dilakukan di tengah-tengah krisis karakter bangsa. Bahkan, dalam konteks tantangan kehidupan masa sekarang dan masa depan, pendidikan pesantren harus berperan dalam mencetak generasi bangsa yang memiliki karakter dan berkepribadian, serta memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan hidup. Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh pesantren merupakan suatu upaya luhur dalam rangka membekali para santri kekuatan moral, intelektual, dan kecakapan hidup.

Menginsafi keadaan kondisi pendidikan nasional tersebut, Abdurrosyid Achmad, M. Hum (inisiator) bersama-sama dengan K.H. Mustofa Muhroji,Lc., K.H.Mislam Qowiy, Dr. Ir. H. Zaenal Arifin, M. Si., Drs. Muhsinwan, Dra. Hj. Azmil Laily Rosjidah, Dra. Winarti, dan Nur Ruqoyah menggagas suatu usaha yang dapat dilakukan untuk berperan serta memperbaiki kondisi bangsa melalui pendidikan generasi yang memiliki dampak jangka panjang.

Awal Muharram/Januari 2009 merupakan momentum penguatan ide untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan berbasis pesantren. Dari diskusi-diskusi yang diselenggarakan tercapai kesamaan persepsi dan visi untuk mendirikan lembaga pendidikan pesantren sebagai wadah aktualisasi kepedulian sosial dan usaha untuk berpartisipasi memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat dan bangsa. Dalam kesempatan itu, inisiator mengajukan usul nama lembaga pendidikan tersebut adalah Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT sebagai kepanjangan dari: Sekolah Alam dan Kemanusiaan Terbuka, dengan motto: Berbasis Kearifan Membangun Kualitas Kehidupan. Nama tersebut kemudian disepakati dan dicatat dalam Akta Notaris Kunsri Hastuti, S.H. nomor 18 tanggal 20 April tahun 2009.

santri

B. VISI DAN MISI

Secara filosofis, nama SELAMAT dimaksudkan sebagai do’a agar lembaga pendidikan ini dapat mengantarkan warganya untuk memperoleh keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat, sebagai pengejawantahan do’a yang diajarkan Allah SWT di dalam al-Qur’an: Robbana atina fi al-dunya hasanah, wa fi al-akhirati hasanah, wa qina adzaban nar.

Selain maksud tersebut, sesuai dengan kepanjangan arti dari kata SELAMAT, lembaga pendidikan pesantren ini didirikan sebagai suatu alternatif dari kondisi pendidikan nasional yang sering terjebak pada formalisme, materialisme, dan aturan-aturan ‘kaku’ yang justru mendistorsi manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya. Konsep sekolah alam dan kemanusiaan terbuka dimaksudkan bahwa lembaga pesantren SELAMAT selalu terintegrasi dengan lingkungan alam dan manusia di sekelilingnya, dengan prinsip keterbukaan memikul tanggungjawab untuk mengenali, mengetahui, memahami, merawat, menghormati dan mengembangkan harmoni kehidupan bersama sehingga tercipta suatu tatanan kehidupan masyarakat yang “baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghofur”.

OLYMPUS DIGITAL CAMERALembaga Pendidikan PESANTREN SELAMAT mengemban misi pendidikan untuk melahirkan generasi khoiro ummah yang siap menjalankan tugasnya sebagai khalifatullah fi al-ardh. Dengan konsep tersebut, Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT terbebas dari ideologi pendidikan yang dikotomis, terbebas dari ideologi yang kaku, tertutup, totaliatrian, dan fanatisme sempit. Sebaliknya, Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMT akan terus-menerus mengembangkan kreatifitas dan inovasi dengan memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang tersedia di alam semesta maupun di dalam kehidupan masyarakat luas dengan prinsip al-muhafadhatu al al-qadimi al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah: melestarikan nilai, prinsip, dan tradisi lama yang baik; dan pada saat yang sama menyerap nilai, prinsip, dan perkembangan baru yang lebih membawa kemaslahatan.

Intinya, Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT ingin melestarikan model pendidikan pesantren sebagaimana khittah-nya, yaitu mendidik manusia untuk menjadi manusia sesuai dengan kebutuhan hidupnya, yaitu hidup di dunia dan hidup di akhirat.

C. MODEL DAN PROGRAM LAYANAN PENDIDIKAN

1. Model Pendidikan: Pesantren Terpadu Anak Harapan
Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT menyelenggarakan model pendidikan pesantren salaf (tradisional) yang diintegrasikan dengan model kurikulum pendidikan nasional melalui Program Pendidikan Kesetaraan, serta pendidikan keterampilan (life skill). Dengan demikian, target out put program Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT adalah mencetak pribadi yang memiliki:

  1. Karakter sebagai santri yang cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Rasulullah SAW, cinta kepada orang tua, cinta terhadap sesama, serta taat kepada pemerintah yang berwenang.
  2. Karakter sebagi santri yang berakhlak mulia, menghormati dan mencintai kepada sesama makhluk Allah, dan peduli terhadap kmaslahatan dan kelestarian lingkungan.
  3. Karakter sebagai santri yang siap berjuang untuk kemuliaan Islam, negara dan bangsa.
  4. Karakter sebagai santri yang terbuka dan siap bekerja sama dengan semua pihak untuk mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan hidup.
  5. Karakter sebagi santri yang memahami ajaran-ajaran Islam ala ahlussunnah waljama’ah, melaksanakannya di dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip/khittah NAHDLATUL ULAMA.
  6. Karakter sebagai santri yang mencintai ilmu dengan terus belajar dan mengajar sepanjang hayat.
  7. Karakter sebagai santri yang berwawasan luas dan bersikap penuh kebijaksanaan.
  8. Karakter sebagai santri yang terampil dan mandiri.

IRAQI BOY KISSES A KORAN AT A MOSQUE IN BAGHDAD2. Program-Program Pendidikan

  1. Tingkat Anak-Anak dan Remaja
    1. Tingkat Ula (setara Sekolah Dasar/SD)
    2. Tingkat Wustha (setara Sekolah Menengah Pertama/SMP)
    3. Tingkat Ulya (setara Sekolah Menengah Atas/SMA)
    4. Tingkat Ma’had Aly dan Mahasiswa Perguruan Tinggi
  2. Tingkat Dewasa dan Orang Tua
    1. Pengajian Mingguan
    2. Pengajian Selapanan
    3. Bimbingan dan Konsultasi Agama

3. Aplikasi Program Pendidikan.

3. a. Tingkat Ula (setara Sekolah Dasar/SD)

1. Kurikulum Dasar Pesantren, yang meliputi:

- Akhlak Kesantrian (Ta’limul Muta’allim)
- Praktek Thoharoh & Pasholatan
- Baca Tulis Al-Qur’an (qiroat, imla’, dan khat)
- Hafalan Asma’ul Husna
- Hafalan Doa & Sholawat
- Hafalan Al-Qur’an Juz 30 (Juz ‘Amma)
- Tarikh Islamiy
- Nadzom Qawaid Nahwiyyah (Pengantar Ilmu Nahwu: memahami dan menghafal)
- Tashrif Ishthilahiy Al-Amtsilat Al-Tashrifiyyah (Pengantar Ilmu Sharaf: memahami dan menghafal)

2. Kurikulum Nasional Pendidikan Kesetaraan
3. Praktek Keterampilan (life skill)
4. Ekskul Wajib: Keorganisasian, Pramuka/Kepanduan, dan Olahraga Bela Diri.

3.b. Tingkat Wustha (setara Sekolah Menengah Pertama/SMP)

1. Program Kurikulum Pesantren Takhassus Takhfidz Al-Qur’an:

- Akhlak Kesantrian (Ta’limul Muta’allim)
- Tahfidz Al-Qur’an Tahap Pertama (minimal 15 Juz)
- Matn Jurrumiyah (minimal memahami)
- Tashrif Al-Amtsilat Al-Tashrifiyyah Lengkap (minimal memahami)
- Pengajian Kitab Metode Bandongan
- Kurikulum Nasional Pendidikan Kesetaraan
- Praktek Keterampilan (life skill)
- Ekskul Wajib: Keorganisasian, Pramuka/Kepanduan, Olahraga Bela Diri, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang.

2. Program Kurikulum Pesantren Takhassus KutubutTurats

- Akhlak Kesantrian (Ta’limul Muta’allim)
- Matn Jurrumiyah (memahami dan menghafal)
- Tashrif Al-Amtsilat Al-Tashrifiyyah Lengkap (memahami dan menghafal)
- Pengajian Kitab Metode Sorogan Tahap Pertama sesuai dengan takhassusnya: (Tafsir Al-Qur’an-Hadits, Fiqih, Akhlak, Bahasa & Sastra Arab)
- Kurikulum Nasional Pendidikan Kesetaraan
- Praktek Keterampilan (life skill)
- Ekskul Wajib: Keorganisasian, Pramuka/Kepanduan, Olahraga Bela Diri, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang.

3.c. Tingkat Ulya (setara Sekolah Menengah Atas/SMA)

1. Program Kurikulum Pesantren Takhassus Takhfidz Al-Qur’an:

- Akhlak Kesantrian (Ta’limul Muta’allim)
- Tahfidz Al-Qur’an Tahap Kedua ( lengkap 30 Juz)
- Pengajian Kitab Metode Bandongan: Mantiq, Ushul Fiqih, dan Qawa’idul Fiqh.
- Kurikulum Nasional Pendidikan Kesetaraan
- Praktek Keterampilan atau wirausaha
- Ekskul Wajib: Keorganisasian, Pramuka/Kepanduan, Olahraga Bela Diri, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang.

2. Program Kurikulum Pesantren Takhassus KutubutTurats

- Akhlak Kesantrian (Ta’limul Muta’allim)
- Pengajian Kitab Metode Sorogan Tahap Kedua sesuai dengan takhassusnya: (Tafsir Al-Qur’an-Hadits, Fiqih, Akhlak-Tasawuf, Bahasa & Sastra Arab)
- Pengajian Kitab Metode Bandongan: Mantiq, Ushul Fiqih, dan Qawa’idul Fiqh
- Kurikulum Nasional Pendidikan Kesetaraan
- Praktek Keterampilan atau wirausaha
- Ekskul Wajib: Keorganisasian, Pramuka/Kepanduan, Olahraga Bela Diri, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang.

3.d. Tingkat Ma’had Aly dan Mahasiswa Perguruan Tinggi

- Bahtsul Masail Waqi’iyyah dan Maudhu’iyyah
- Penelitian Ilmiah
- Penulisan Makalah ilmiah dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris
- Pengabdian Masyarakat
- Organisasi dan strategi gerakan
- Praktek wirausaha
- Kuliah di perguruan tinggi

3.e. Pengajian Mingguan: Tafsir Al-Qur’an-Hadits

3.f. Pengajian Selapanan: Istighotsah, Maulid, Manaqib, dan pengajian umum.

3.g. Bimbingan dan Konsultasi Syari’ah:

- Bimbingan praktis bagi individu atau keluarga untuk menjalankan syari’ah.
- Konsultasi terbuka maupun tertutup bagi individu tentang suatu masalah atau problem kehidupan yang membutuhkan bantuan pemecahan atau solusi dengan pendekatan kemaslahatan syari’ah.

4. Syahadah dan Sertifikasi Program Pendidikan:
Peserta didik Tingkat Ula, Wustha, dan Ulya mengikuti ujian akhir pesantren dan negara pada setiap tingkatannya. a. Peserta didik Tingkat Ula, Wustha, dan Ulya, yang lulus ujian akhir memperoleh:

  1. SYAHADAH dari pesantren sesuai marhalahnya.
  2. SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) sesuai tingkatannya
  3. IJAZAH dari Kementerian Agama sesuai tingkatannya.

b. Peserta didik Tingkat Ma’had Aly dan Mahasiswa Perguruan Tinggi memperoleh SYAHADAH MA’HAD ALY dari pesantren dan IJAZAH dari perguruan tinggi masing-masing.

Program pendidikan di Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT merupakan satu paket sistem yang harus diikuti dan ditempuh oleh setiap peserta didik. Peserta didik yang berhenti/diberhentikan/keluar/dikeluarkan dari program sebelum menyelesaikan Program Ma’had Aly dan Perguruan Tinggi, dinyatakan GUGUR dan tidak diberikan SYAHADAH maupun IJAZAH. Kepada yang bersangkutan hanya diberikan Surat Keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan pernah menempuh program pendidikan di Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT dan berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, setiap orang tua atau wali yang menyerahkan anak untuk menjadi peserta didik di Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT harus memahami sistem tersebut dan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Ketentuan Program Pendidikan Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT.

5. Beasiswa Pendidikan
Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT memungkinkan peserta didiknya memperoleh beasiswa pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Peserta didik yang memperoleh beasiswa pendidikan ke luar dari Pesantren SELAMAT, berstatus sebagai peserta didik/santri yang melaksanakan tugas belajar dan harus kembali lagi ke Pesantren SELAMAT untuk tugas pengabdian sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun.

6. Biaya Pendidikan
Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT menyelenggarakan layanan pendidikan bagi masyarakat muslim dengan membebaskan seluruh biaya hidup dan biaya pendidikan bagi golongan masyarakat yang fakir, miskin, anak-anak yatim/piatu, dan anak-anak terlantar. Bagi golongan masyarakat yang mampu secara ekonomi, untuk mengikuti program pendidikan tidak diwajibkan membayar iuran biaya pendidikan dan biaya hidup, kecuali kebutuhan alat tulis, pakaian seragam, peralatan kebersihan dan kerapian diri, serta biaya yang dibutuhkan langsung untuk kegiatan belajar di luar pesantren seperti kegiatan belajar yang bersifat kunjungan, baik di dalam kota maupun ke luar kota.

Untuk memnuhi anggaran biaya operasional, pengelola pesantren membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkontribusi dan berpartisipasi dalam bentuk:

  1. berinfak fi sabilillah atau bersedekah dalam bentuk uang, barang, tenaga, maupun pikiran (ilmu dan pengalaman/keterampilan).
  2. menginvestasikan modal/barang/lahan dalam ikatan kerja sama dengan pesantren yang dikelola oleh pesantren dalam bentuk unit-unit usaha ekonomi pesantren.

7. DISIPLIN PENDIDIKAN
Dalam rangka ikhtiar untuk mencapai target dan tujuan pendidikan, peserta didik/santri di Lembaga Pendidikan Pesantren SELAMAT diharuskan menjalankan: TIRAKAT WAJIB SANTRI PONDOK PESANTREN “ SELAMAT ”, yaitu:

  1. SELALU MEMELIHARA KESUCIAN DIRI
  2. TIDAK BERBICARA YANG TIDAK ADA FAIDAHNYA
  3. MENYIBUKKAN DIRI DENGAN BELAJAR & HAL-HAL YANG BERFAIDAH
  4. MENGIKUTI KEGIATAN BELAJAR YANG DIJADWALKAN DENGAN DISIPLIN
  5. HADIR DI MASJID SEBELUM ADZAN
  6. SHALAT FARDHU BERJAMA’AH LENGKAP WIRIDAN
  7. SHALAT SUNNAH ROWATIB

a. 2 Roka’at Sebelum Shalat Shubuh,
b.
2 Roka’at Sebelum Shalat Dhuhur,
c.
2 Roka’at Sesudah Shalat Dhuhur,
d.
2 Roka’at Sebelum Shalat Ashar,
e.
2 Roka’at Sesudah Shalat Maghrib,
f.
2 Roka’at Sebelum Shalat Isya’ ,
g.
2 Roka’at Sesudah Shalat Isya’ .

8. SHALAT SUNNAH MALAM

a. Shalat Tahajjut 2 Roka’at
b. Shalat Hajat 2 Roka’at
c. Shalat Witir 3 Roka’at

9. SHALAT DHUHA

10. MEMBACA AL-QUR’AN SEBELUM TIDUR MALAM :

a. Surat Al-Waqi’ah
b.
Surat Al-Mulk
c.
Surat Al-Muzzammil
d.
Surat Al-Lail
e.
Surat Al-Insyiroh

Keterangan: Santri yang belum mampu membaca, maka ia mendengarkan, dan santri yang sudah mampu membaca meningkatkannya untuk menghafal.

11. MEMBACA YASIN, TAHLIL, DAN SHOLAWAT BERJAMA’AH SETIAP MALAM JUM’AH DAN MALAM SENIN

12. MELAKSANAKAN TUGAS PIKET KERJA KEBERSIHAN PESANTREN, PIKET JAGA, DAN KERJA BAKTI MASJID DAN LINGKUNGAN/FASILITAS PUBLIK SEBAIK-BAIKNYA

13. MERAWAT FASILITAS PESANTREN DAN TIDAK GHOSHOB BARANG MILIK ORANG LAIN

14. SANTRI SENIOR MEMBIMBING DAN MENJADI SURI TELADAN TERHADAP SANTRI JUNIOR

15. BERBICARA SANTUN DAN BERSIKAP SOPAN KEPADA SEMUA ORANG

16. BEREMPATI DAN MENOLONG TEMAN/ORANG YANG MENGALAMI KESULITAN

17. TIDAK BERGAUL DENGAN WARGA MASYARAKAT, KECUALI DALAM KEGIATAN YANG DIPROGRAMKAN OLEH PESANTREN

18. TIDAK MEMBAWA TELEPON GENGGAM

19. KELUAR ATAU PULANG DENGAN IZIN PENGASUH UTAMA